12 October, 2016

Ah, Cinta Melulu!

Halo, setelah sekian lama tidak menulis lagi di sini, akhirnya saya nulis lagi.
Kali ini dengan tekad yang lebih bulat untuk menyampaikan pikiran-pikiran sok kritis saya yang entah benar entah tidak. Tapi lebih baik ditulis daripada disimpan sendiri, apalagi dijadikan bahan omongan dengan geng rumpi di warteg langganan.
Tapi dateng-dateng kok sepertinya bahasan tentang cinta lagi?
Terakhir deh, karena rasa-rasanya Si Anak Baru Dewasa-Tanggung ini sedang lelah-lelahnya bicara soal hati.

Kilas balik beberapa bulan yang lalu, Si Saya ini sedang kasmaran. Dunia serasa milik berdua sama Si Dia, yang lain cuma ngekos bayar harian.
Maju beberapa bulan ke depan, Si Saya yang pada awalnya mau mencoba serius dalam berkomitmen dengan orang lain, dan berhenti menjadi heartbreaker, akhirnya tersadarkan oleh suatu hal bahwa....

Komitmen itu susahnya minta ampun. Minta ampun. *cry in silence*

Komitmen: /ko.mit.men/ menurut KBBI adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. 
Tariklah kesimpulan untuk kasus saya komitmen di sini adalah secara ilegal statusnya sedang terikat. Elu punya Gue, Gue punya Elu. Eits, meski ilegal dan tanpa ada persetujuan secara sah dari agama dan negara, kedua belah pihak ini sama-sama menjaga perasaan satu sama lain. Menjalani hari-hari bareng dengan bahagya ululuuhh anak muda~~

Komitmen, bukan hal yang mudah untuk seseorang yang sangat sembrono dan susah untuk serius seperti saya. Diajakin serius malah ketawa. Ya Tuhan...
Tapi belakangan, saya lagi-lagi tidak yakin apa arti dari komitmen dalam hubungan ini. Nah, I'm actually not gonna talk about commitment hacks in the first place, kepikiran aja nyebut kata ini hehehe.

Saya yang masih suka keteteran dalam mengatur waktu kuliah, kegiatan organisasi, kerja sampingan, dan istirahat ini tau-tau makin keteteran dengan keharusan....bukan keharusan sih....pokoknya sesuatu hal yang nyempil-nyempil di sela-sela kesibukan (you name it), 24/7 kepikiran, dengan gimana caranya menjaga perasaan anak orang yang sedang saya "gaet". Keteteran, perasaan insekyor tentang apakah saya gagal me-maintain hubungan saya ke arah yang lebih menyenangkan mengalahkan capeknya otak dan badan saya yang muter kesana-kemari. Kemudian bisa jadi sedih parah. Saya yang memegang teguh pendapat "Jangan mau nangis karna laki-laki!" seketika lupa dengan semua hal itu dan lupa untuk berpikir secara rasional. Heart wins. 

But it's a totally fun journey. A lot of fun.

The feeling when you look into you lover's eyes, quietly adoring the way he curl his lips, thinking 'bout how nice it would be to wake up next to him every morning, wanting to squeeze his cheek 'til he can't feel his face, missing the smell of his perfume when he's not around.....is enourmous. It feels like a lot of fireworks bursting out of your chest.

Then wait until you felt something ironic.

I found something ironic lately. Ironis ketika rasanya 24 jam dalam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan segala aktivitas, dan meluangkan waktu untuk Q-time yang seharusnya menjadi waktu untuk sama-sama melepas penat dan bertukar cerita satu sama lain malah terbuang dengan lagi-lagi sibuk dengan urusan sendiri....di dunia maya. Duh. Pathetic, isn't it? Bukankah seharusnya sebuah pasangan sama-sama menikmati dan menghargai momennya ketika sedang bersama? Creating a world for they own, where only them who knows where it is and what's inside. Bukan malah saling membuat jarak dan monoton?

Demi Tuhan, mahluk insekyor-an seperti saya sangat payah soal hal-hal seperti ini. Saya amat sangat tidak pintar dalam mengutarakan perasaan. Kalo marah-marah sama orang baru bisa banget karna sumbunya pendek banget.  Saking kebiasaannya mendem perasaan, sedih sendiri, nangis sendiri, pas mau diomongin keburu lupa sedihnya kenapa. Gitu aja terus sampe Nicki Minaj kosidahan.

Well, selama dibuatnya tulisan ini saya tersadar kalau saya sedang memperjuangkan sebuah hal yang membahagiakan sekali di samping lack of commitment education issues nya saya. Buset udah kayak kata pengantar :(
Untuk kalian yang belum melewati fase ini dan mungkin ga ngerti saya ngomong apaan, atau jiji dengan apa yang sudah kalian baca, percayalah someday you will. Suatu hari kalian akan sama tidak irrasionalnya dengan saya kalau soal hati. Ah, cinta melulu!


Masih di Jatinangor.
12 Oktober 2015, 07:14.


BENTAR LAGI NGAMPUS YA ALLAH!

No comments:

Post a Comment