13 May, 2016

Donat Bavarian

18:03.
Langit Jatinangor sudah gelap, matahari sudah lelah mencurahkan sinarnya seharian.
Jalanan semakin hiruk pikuk. Ban kendaraan tiada henti menghantam kerikil dan aspal jalanan.
Kotor. Udara Jatinangor maksudnya. Hutan di sini tidak banyak membantu mensterilkan udara sore di kota kecil ini.

"Teh, minta teh..."
Seorang anak kecil. Mukanya kusam. Membawa karung untuk memulung.
Awalnya tak kuhiraukan. Ku lanjutkan memainkan laptopku. Tapi kulihat lagi muka anak itu.
Lelah. Kusam. Wajahnya bukan wajah anak nakal yang suka sembarangan mengemis di jalan. Wajahnya penuh pengharapan.
Ku ambil dompetku untuk beberapa receh tapi tidak ada. Uang besar semua. Untuk anak kos seperti ku (atau mungkin semua orang) memberikan sepuluh ribu kepada anak jalanan mungkin....agak susah.
Ragu-ragu aku mau memberinya. Tiba-tiba aku berdiri menghampirinya. Mungkin aku sedang berada di alam 88% tidak sadarku.
"Dek sudah makan?" kataku.
Dia terkejut. "Belum.." jawabnya lesu. Ku suruh dia menunggu sebentar.
Kemudian aku kembali dengan sekantong donat bavarian. Memberinya sekantong donat itu.
Melihat matanya berbinar lantas pergi sembari berteriak dengan riang, "Terima kasih, Teh!"

Dik, aku tidak tahu bagaimana rasanya donat bavarian. Aku lebih senang membeli donat coklat.
Tapi daripada aku memberimu sepuluh ribu ku, yang aku tidak tahu akan dibelikan apa, lebih baik kuberikan sebuah donat bavarian yang aku harap, dapat mengganjal perut laparmu.
Dik, aku ini anak kos yang tidak mandiri. Aku tidak pintar dalam berdagang untuk menambah uang jajanku. Uang bulananku juga terbatas. Setiap hari aku mencoba sebisa mungkin rajin mencatat pengeluaranku.
Tapi Dik, kamu baru saja mengingatkanku.
Bulan ini aku belum sedekah. Aku sibuk mencatat pengeluaranku secara detil tapi lupa dengan kewajibanku untuk bersedekah.
Dan Dik, kamu baru saja menyadarkanku lagi.
Aku jauh lebih beruntung dari kamu. Hidupku berkecukupan, setidaknya aku mendapatkan segala hal yang aku perlukan.
Tapi kamu, aku tidak yakin kalau tadi pagi kamu sudah sarapan bahkan makan siang. Tapi kamu masih berjuang untuk memungut sampah jalanan untuk ditukar ke beberapa rupiah.
Dik, semoga donat bavarian tadi menjadi maslahat bagimu. Dan Inshaa Allah bagiku.
Terima kasih, Dik.


Jatinangor, menuju malam, 13 Mei 2016
di pojokan Dunkin Donut, numpang Wi-fi.

No comments:

Post a Comment