13 January, 2017

Semper Felix, 2017.

Semper felix. Felix semper es.
Is a Latin phrase that means always happy. Be always happy.

Sooo, new year celebration has passed and 12 days has passed too since that. Well, I don't really give a shii about new year thingy actually. It's just a number for me. And the celebration is too tiring I prefer to stay at home with my family, watching movies and eat lots lots of nice food. Those "new year, new me" does not work out on me anymore. I realized that if I keep thinking that I need to "make a new me" every each year then I won't find the me-me that I've been looking for all this time.
Sooo I had chosen to just stay be the me-me, but I'm starting off my mind for this 2017 new and fresh! I want myself to be always happy towards everything that I will be facing for the whole year and I will cherish every moment that I have from now on. Then I found this pretty cool Latin phrase. Semper felix, 2017!

Di akhir tahun 2016 kemarin, saya banyak baca keluhan temen-temen deket soal betapa mengerikannya perjalanan mereka selama 2016. Well, me either, but I don't think that 2016 is really the worst selama saya hidup di dunia ini heheheh. Di 2016 saya belajar leeebihh banyak pelajaran keren dan banyak kejadian menyenangkan di hidup saya. Tidak sedikit juga kesalahan-kesalahan (yang akibatnya bahkan bisa fatal) yang saya lakukan. It's been fun, but not really fun. Terlalu banyak tekanan.....dan merasa kesepian. Bahkan melewati setahun penuh kemarin tidak terlalu rasa bagi saya. :(

Dan hari ini, 13 Januari 2017, jatah hidup saya berkurang satu tahun jadi 19 tahun! :D
Rasanya sama seperti tahun-tahun sebelumnya pas ulang tahun, tapi tahun ini berasa beda karna ulang tahunnya hari Jum├ít dan saya merasa so damn suci HAHAHAH. Dan rasanya hari ini spesial sekali karna saya mendapat banyak sekali ucapan selamat dan do'a dari teman-teman lama yang sudah jarang ngobrol sama saya. And it's reaalllly nice to have some small talks 'bout the past memories! 

Sudah 19 tahun, tapi saya ngerasa umur saya segini-segini aja karna faktor teman-teman saya kebanyakan sudah akan menginjak kepala 2. Gapapah. Masih belasan masih ada kesempatan untuk melakukan kesalahan hueheheh. Tahun terakhir umur belasan mau bikin kesalahan banyak-banyak ah :''))
Sudah 19 tahun, akhirnya saya 'sedikit' menemukan ingin jadi orang yang seperti apa saya di masa depan nanti. Saya merasa sudah mulai bisa akur dengan sifat-sifat terpendam saya yang sejak dulu seringkali bertubrukan. Saya mulai punya definisi kebahagiaan saya sendiri. Dan yang paling penting saya belajar untuk selalu bersyukur dan menghargai setiap momen yang saya lalui agar waktu gak kerasa lewat begitu aja.

Duh gak sia-sia udah hidup 19 tahun ngerepotin orang banyak dalam proses pembentukan diri yang belum sepenuhnya terbentuk ini HAHAHAH. :( *kata siapa gak sia-sia**dasar parasit ekosistem**hush hush* 
Tahun ini, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, saya akan melakukan banyaaaak sekali kesalahan. Saya akan mencoba lebih banyak hal baru, saya akan melawan semua rasa ragu, bimbang dan takut saya setiap kali saya merasa telah salah mengambil keputusan, saya akan sotoy se-sotoy-sotoy-nya sama semua hal yang menimbulkan banyak pertanyaan di otak saya kemudian memacu diri untuk mencari jawaban yang gak sotoy. At the end of the year, saya akan punya banyak hal yang bisa saya jadikan kenang-kenangan buat memasuki 20s life crisis. Dan tahun ini dan pada umur ini, semua hal akan dilalui dengan perasaan bahagia. This world surely needs a #HappyBella! :)

12 October, 2016

Ah, Cinta Melulu!

Halo, setelah sekian lama tidak menulis lagi di sini, akhirnya saya nulis lagi.
Kali ini dengan tekad yang lebih bulat untuk menyampaikan pikiran-pikiran sok kritis saya yang entah benar entah tidak. Tapi lebih baik ditulis daripada disimpan sendiri, apalagi dijadikan bahan omongan dengan geng rumpi di warteg langganan.
Tapi dateng-dateng kok sepertinya bahasan tentang cinta lagi?
Terakhir deh, karena rasa-rasanya Si Anak Baru Dewasa-Tanggung ini sedang lelah-lelahnya bicara soal hati.

Kilas balik beberapa bulan yang lalu, Si Saya ini sedang kasmaran. Dunia serasa milik berdua sama Si Dia, yang lain cuma ngekos bayar harian.
Maju beberapa bulan ke depan, Si Saya yang pada awalnya mau mencoba serius dalam berkomitmen dengan orang lain, dan berhenti menjadi heartbreaker, akhirnya tersadarkan oleh suatu hal bahwa....

Komitmen itu susahnya minta ampun. Minta ampun. *cry in silence*

Komitmen: /ko.mit.men/ menurut KBBI adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. 
Tariklah kesimpulan untuk kasus saya komitmen di sini adalah secara ilegal statusnya sedang terikat. Elu punya Gue, Gue punya Elu. Eits, meski ilegal dan tanpa ada persetujuan secara sah dari agama dan negara, kedua belah pihak ini sama-sama menjaga perasaan satu sama lain. Menjalani hari-hari bareng dengan bahagya ululuuhh anak muda~~

Komitmen, bukan hal yang mudah untuk seseorang yang sangat sembrono dan susah untuk serius seperti saya. Diajakin serius malah ketawa. Ya Tuhan...
Tapi belakangan, saya lagi-lagi tidak yakin apa arti dari komitmen dalam hubungan ini. Nah, I'm actually not gonna talk about commitment hacks in the first place, kepikiran aja nyebut kata ini hehehe.

Saya yang masih suka keteteran dalam mengatur waktu kuliah, kegiatan organisasi, kerja sampingan, dan istirahat ini tau-tau makin keteteran dengan keharusan....bukan keharusan sih....pokoknya sesuatu hal yang nyempil-nyempil di sela-sela kesibukan (you name it), 24/7 kepikiran, dengan gimana caranya menjaga perasaan anak orang yang sedang saya "gaet". Keteteran, perasaan insekyor tentang apakah saya gagal me-maintain hubungan saya ke arah yang lebih menyenangkan mengalahkan capeknya otak dan badan saya yang muter kesana-kemari. Kemudian bisa jadi sedih parah. Saya yang memegang teguh pendapat "Jangan mau nangis karna laki-laki!" seketika lupa dengan semua hal itu dan lupa untuk berpikir secara rasional. Heart wins. 

But it's a totally fun journey. A lot of fun.

The feeling when you look into you lover's eyes, quietly adoring the way he curl his lips, thinking 'bout how nice it would be to wake up next to him every morning, wanting to squeeze his cheek 'til he can't feel his face, missing the smell of his perfume when he's not around.....is enourmous. It feels like a lot of fireworks bursting out of your chest.

Then wait until you felt something ironic.

I found something ironic lately. Ironis ketika rasanya 24 jam dalam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan segala aktivitas, dan meluangkan waktu untuk Q-time yang seharusnya menjadi waktu untuk sama-sama melepas penat dan bertukar cerita satu sama lain malah terbuang dengan lagi-lagi sibuk dengan urusan sendiri....di dunia maya. Duh. Pathetic, isn't it? Bukankah seharusnya sebuah pasangan sama-sama menikmati dan menghargai momennya ketika sedang bersama? Creating a world for they own, where only them who knows where it is and what's inside. Bukan malah saling membuat jarak dan monoton?

Demi Tuhan, mahluk insekyor-an seperti saya sangat payah soal hal-hal seperti ini. Saya amat sangat tidak pintar dalam mengutarakan perasaan. Kalo marah-marah sama orang baru bisa banget karna sumbunya pendek banget.  Saking kebiasaannya mendem perasaan, sedih sendiri, nangis sendiri, pas mau diomongin keburu lupa sedihnya kenapa. Gitu aja terus sampe Nicki Minaj kosidahan.

Well, selama dibuatnya tulisan ini saya tersadar kalau saya sedang memperjuangkan sebuah hal yang membahagiakan sekali di samping lack of commitment education issues nya saya. Buset udah kayak kata pengantar :(
Untuk kalian yang belum melewati fase ini dan mungkin ga ngerti saya ngomong apaan, atau jiji dengan apa yang sudah kalian baca, percayalah someday you will. Suatu hari kalian akan sama tidak irrasionalnya dengan saya kalau soal hati. Ah, cinta melulu!


Masih di Jatinangor.
12 Oktober 2015, 07:14.


BENTAR LAGI NGAMPUS YA ALLAH!

07 June, 2016

Dear Soft Baked Chocolate Chip Cookie, I Love You

Teruntuk kamu,
Yang sudah memberiku ide untuk menulis lagi
It may sounds cheesy -- and I'm not used to it -- but I'll let you know something that you probably wanna know.

Saya, saya bukan orang yang mudah menjalin komitmen dengan orang lain.
Saya membutuhkan proses yang panjang untuk benar-benar mau membuka diri kepada orang lain.
Termasuk juga dengan kamu.
Kamu mungkin bertanya "amongst all the thousands men, why me?"
mungkin saya akan menjawab dengan petikan dialog dari film The Princess Diaries, "Because you saw me when I was invisible..."

Sebelumnya tidak pernah terpikirkan kalau saya akan "melirik" kamu.
Bagaimana bisa saya jatuh hati dengan seseorang yang tidak jarang menjadi objek lelucon saya dan teman-teman saya.
Bagaimana bisa saya mulai menyayangi seseorang yang sulit dimengerti pola pikir dan gaya bahasanya. Bahkan gaya rambutnya. Hahaha.

Tapi hei,
Saya selalu kagum dengan sepatumu yang tidak pernah "absen" nangkring di depan mushola ketika waktu shalat tiba.
Saya selalu senang menertawakan lelucon yang kamu sampaikan (sekalipun itu tidak lucu).
Saya selalu tidak masalah dengan kamu yang tidak sungkan-sungkan bernyanyi asal di depan umum.
Saya selalu suka ketika rambut absurd mu dikuncir bulat ke atas. Tetap berantakan, tapi lucu. Entah dari segi apa.

Hei kamu,
Kamu berhasil membuat 'Si Skeptis Bella' mau terang-terangan bertingkah konyol dan mencurahkan isi hatinya kepada kamu. Bahkan sampai menulis sesuatu untukmu.

Saya tidak tahu "kita" akan bagaimana kedepannya. Tapi saya sudah jatuh cinta dengan semua kesederhanaan "kita" dari awal. Tanpa basa-basi dan penuh dengan kekonyolan.
Sepertinya memperjuangkan "kita" ke depannya -- bersama-sama -- akan menjadi suatu perjalanan yang menyenangkan.

Tu pardalanan na balgaan, sauduran.
Mugi-mugi langgeng dan lancer.
Untuk kita yang tertawa bersama,
Gendut bersama,
dan Dewasa bersama.

Sampai jadi debu.

((judul diambil dari lagu Adhitia Sofyan))
:))

13 May, 2016

Donat Bavarian

18:03.
Langit Jatinangor sudah gelap, matahari sudah lelah mencurahkan sinarnya seharian.
Jalanan semakin hiruk pikuk. Ban kendaraan tiada henti menghantam kerikil dan aspal jalanan.
Kotor. Udara Jatinangor maksudnya. Hutan di sini tidak banyak membantu mensterilkan udara sore di kota kecil ini.

"Teh, minta teh..."
Seorang anak kecil. Mukanya kusam. Membawa karung untuk memulung.
Awalnya tak kuhiraukan. Ku lanjutkan memainkan laptopku. Tapi kulihat lagi muka anak itu.
Lelah. Kusam. Wajahnya bukan wajah anak nakal yang suka sembarangan mengemis di jalan. Wajahnya penuh pengharapan.
Ku ambil dompetku untuk beberapa receh tapi tidak ada. Uang besar semua. Untuk anak kos seperti ku (atau mungkin semua orang) memberikan sepuluh ribu kepada anak jalanan mungkin....agak susah.
Ragu-ragu aku mau memberinya. Tiba-tiba aku berdiri menghampirinya. Mungkin aku sedang berada di alam 88% tidak sadarku.
"Dek sudah makan?" kataku.
Dia terkejut. "Belum.." jawabnya lesu. Ku suruh dia menunggu sebentar.
Kemudian aku kembali dengan sekantong donat bavarian. Memberinya sekantong donat itu.
Melihat matanya berbinar lantas pergi sembari berteriak dengan riang, "Terima kasih, Teh!"

Dik, aku tidak tahu bagaimana rasanya donat bavarian. Aku lebih senang membeli donat coklat.
Tapi daripada aku memberimu sepuluh ribu ku, yang aku tidak tahu akan dibelikan apa, lebih baik kuberikan sebuah donat bavarian yang aku harap, dapat mengganjal perut laparmu.
Dik, aku ini anak kos yang tidak mandiri. Aku tidak pintar dalam berdagang untuk menambah uang jajanku. Uang bulananku juga terbatas. Setiap hari aku mencoba sebisa mungkin rajin mencatat pengeluaranku.
Tapi Dik, kamu baru saja mengingatkanku.
Bulan ini aku belum sedekah. Aku sibuk mencatat pengeluaranku secara detil tapi lupa dengan kewajibanku untuk bersedekah.
Dan Dik, kamu baru saja menyadarkanku lagi.
Aku jauh lebih beruntung dari kamu. Hidupku berkecukupan, setidaknya aku mendapatkan segala hal yang aku perlukan.
Tapi kamu, aku tidak yakin kalau tadi pagi kamu sudah sarapan bahkan makan siang. Tapi kamu masih berjuang untuk memungut sampah jalanan untuk ditukar ke beberapa rupiah.
Dik, semoga donat bavarian tadi menjadi maslahat bagimu. Dan Inshaa Allah bagiku.
Terima kasih, Dik.


Jatinangor, menuju malam, 13 Mei 2016
di pojokan Dunkin Donut, numpang Wi-fi.

20 March, 2016

Homesick

Ya kembali lagi dengan saya.....
....yang lagi demam+pilek berat+badannya nyeri semua.
.
.
(( gwsin dong ))


Udah 3 hari saya ga enak badan. Biasanya kalo lagi sakit gini saya suka kangen rumah.
Kangen rumah. Banget
Bangun pagi trus masih ga enak badan langsung nangis. Nangis sambil ngedumel "Lemah banget sih ini badan, udah tau tinggal sendiri". Trus mikir "Dulu kalo sakit tinggal tidur aja, obatnya udah disiapin, turun ke bawah dimasakin makanan enak sama mama. langsung dibawa ke dokter. sembuh."
Sekarang?
Karena keluarga besar saya ada di Jakarta semua, Mama, Papa dan Adik di Medan, Abang di Jepang, saya di Djatinangor which mean saya hidup sendirian di sini.
Karna saya sendirian, ga mungkin kalo saya sakit saya terbang dulu ke Medan ato balik dulu ke Jakarta cuma buat istirahat dan ngerepotin orang lain. Jadi saya harus sakit sendiri. Kalo sakit, bahkan sesakit-sakitnya, saya harus terseok-seok ke klinik terdekat buat beli obat.
Karna saya sendirian, kalo sakit, bahkan sesakit-sakitnya, saya harus tetap keluar untuk beli makanan sehat. Di luar dari kebiasaan saya makan seblak.

Meskipun sekarang badan saya meronta-ronta minta diistirahatkan, saya tetap harus berurusan dengan tugas-tugas saya dan fakta bahwa besok siang saya kuis Sosiologi Komunikasi dan sorenya masih harus ospek jurusan dan harus mengurusi urusan organisasi. Hidup mahasiswa!

Jadi untuk kalian Adik-adik SMA yang masih berpikir kalau kehidupan kuliah apalagi merantau itu enak, pikir-pikir dulu 5000x. Tahun lalu, hari ini, saya berharap segala cengkunek tentang UN dan SBMPTN cepat selesai agar saya bisa merasakan santainya kehidupan perkuliahan. Ternyata saya salah besar HAHAHAHAH *headbanging*. 

Oh iya satu lagi, kalo lagi sakit gini kangen bangetnya sama si Dedek sama si Mamah.
Dulu pas demam dan si Dedek mau main, dia suka pura-pura jadi dokter dan ngomong "Duuh panas sekawi (sekali) ya Bewa (Bella) pawana (kepalanya). Tunggu tunggu, Dedek ambiw (ambil) tadin (Betadine) duwu (dulu) yaaa.." ........ :')
Dulu pas demam si Mamah suka masakin makanan enak-enak. Semua masakan Mama enak, ga ada tandingannya. Ah laper......

Kangen. Rumah. 
Rumah. Sakit.


Jatinangor, 20 Maret 2016.
Pukul 20.07 Waktu Indonesia bagian Baper. 

15 February, 2016

Teman Kecilku

So, today I met up with my old friends from elementary school, Ibnu&Gultom.
Harusnya ada Alvin juga tapi Alvin ketiduran nungguin hujan di Bojongsoang reda hahaha. Jadilah kita ketemuan di Mall PVJ (setelah awalnya mau nongski di Ngopdoel DU, mau ke Lembang, mau ke Warung Pojok). And yes, after me and Ibnu not seeing each other for 6 years, me and Gultom not seeing each other for 2 years, so many things has changeeeddd between each of us! Teman-temanku yang dulu masih cebol-cebol, kucel, lasak dan menyebalkan itu is now an-almost-grown up-man and has a good looking face! *Despite the fact that still can't get rid of that "Melayu-Minangish" dialect :))

Trus kita nonton Deadpool, shalat, dan makan di KFC (KFC is such a lyf savior for anak kosan yg pengen hedon wkwk).
Disitu kita ngobrol banyak, mulai dari nostalgia masa-masa SD di mana saya dulu cengeng banget, diganggu dikit langsung ngadu ke Mama dan Mamanya sering banget dateng ke sekolah buat toyor mereka yang gangguin saya hahahah. Trus kebiasaan anak cowo yang waktu jam istirahat main Cakbur (lupa apa gitu panjangannya), main polisi-penjahat, main kasti. Dan cerita kalo sekarang Mamanya Ibnu udah jadi kepala sekolah SD kita, wali kelas favorit saya Bu Robay baru saja pensiun, dan beberapa guru favorit saya lainnya masih tetap mengajar di situ. Saya tamatan 2009. Sudah hampir 7 tahun. Ya ampun sudah lewat 7 tahun.....

Saya masih inget dulu Gultom itu terpinter di kelas, anaknya kecil-kecil cabe rawit. Terbukti dia masuk SMP favorit (akselerasi bruh!) dan SMA favorit di Pekanbaru, dan sekarang kuliah di SITH ITB. Bukan main ini anak, bahkan Mama dan Papa saya dari dulu selalu yakin kalau anak ini bakalan sukses sampe gedenya. Kebukti. :')
Dan saya juga masih inget dulu Ibnu itu rada males belajar, padahal doi anak guru wkwkwk. Sering diingetin sama guru lain biar ga males, kasian Mamanya. Tapi dia suka pelajaran IPA dulu, trus kita masuk ke SMP yang sama cuma beda kelas. Makin gede ini anak makin keliatan cakep dan tetep putih sampe sekarang. Sekarang dia kuliah di Manajemen Bisnis Universitas Pasundan.

Kita ngobrol ngalur-ngidul selama beberapa jam, obrolan yang awalnya dimulai dari nostalgia masa-masa SD berlanjut ke omongan berat soal tujuan hidup dan bahkan pandangan kami tentang politik di Indonesia. Saya dengan senang hati lebih banyak mendengarkan alur percakapan kami. Bayangkan, 7 tahun lalu kami hanya anak-anak ingusan yang kalo pulang sekolah bajunya bau apek gara-gara keringetan main lari-larian, 7 tahun mendatangnya kami sudah ber-title 'Maha'siswa. Bukan lagi bocah bau apek yang ngomongin soal permainan seru baru, tapi obrolan kami sudah mengenai "Insya Allah aku pas lulus bakalan balik ke asal gue, sekalian bikin riset", "Gue pengen buka franchise nih. Usaha makanan itu menjamin banget, apalagi sekarang yg anti mainstream gitu", "Gue pengen kerja di perusahaan multinasional, pengen keliling dunia trus pensiun di Switzerland. Mantap."
...........
Kalau saya bongkar kembali memori saya menuju 7 tahun lalu, bayangan saya atau kami soal "masa depan" bukanlah seperti apa yang sudah kami bicarakan malam ini. "Masa depan" yang kami pikirkan waktu itu lebih santai, cuma seperti "Mau masuk smp ini nih", cuma se-simple itu.

Saya setuju dengan ungkapan "Waktu akan mengubah diri seseorang". Buktinya kami berubah. Kami tidak lagi (selalu) bermain-main dengan pikiran kami.
Saya bukan lagi anak perempuan manja yang selalu ngadu ke Mamanya kalo digangguin orang. Saya sudah lebih bisa mengatasi permasalahan saya sendiri tanpa harus melibatkan orangtua.
Teman saya Ibnu bukan lagi anak pemalas seperti yang dicap oleh guru-guru waktu SD. Dia sekarang aktif berorganisasi dan sudah mulai memikirkan step apa yang harus ia ambil untuk hidup yang ia inginkan.
Dan teman saya Gultom, he's still that genius kiddo that every parents will adore. Tapi dia semakin bijak, dan semakin luar biasa cemerlang pemikirannya.

Malam ini 'meter' kebahagiaan saya meningkat. Teman masa kecil saya sebagian besar tumbuh menjadi orang yang luar biasa, dengan cara tersendiri tentunya. Dan fyi, sebagian teman sekelas saya di SD dulu (kelas A) sekarang banyak yang menempuh pendidikan di Univesitas yang luar biasa keren. ITB, Unpad, Unpas, Telkom University, STIS, STTD, Binus, dll. Mengetahui teman-teman kecil saya dulu telah "tumbuh dengan baik", entah kenapa jadi suatu rasa bahagia yang amat teramat sangat......sangat membahagiakan! :')
Mungkin untuk berkumpul kembali dengan mereka yang lainnya sekarang lumayan sulit karena perbedaan daerah tempat tinggal, semoga suatu saat saya dan teman-teman saya bisa reuni full team!

Atau baru ketemu lagi dinikahan salah satu dari kami, mungkin? :p





Jatinangor, tengah malam 15 Februari 2016.